Hukum Perkahwinan

Ulama’ berbeza pendapat dalam hukum perkahwinan berdasarkan kepada keadaan iaitu samada wajib, haram, makruh, harus dan sunat. Sebahagian ulama’ membahagikan hukum kahwin ini kepada 5 bahagian mengikut keadaan dan maslahat.



1. Wajib
Bagi orang yang yakin akan terlibat dengan zina jikalau tidak berkahwin dan dia merupakan seorang yang mampu dari segi zahir dan batin.
Dengan kata lain, menjaga kebersihan diri daripada melakukan zina adalah wajib dan jika kewajipan ini tidak dipenuhi kecuali setelah berkahwin, maka hukum perkahwinan itu adalah wajib.

2. Sunat
Bagi orang yang ingin berkahwin dan berkemampuan dari segi zahir dan batin tetapi dia masih lagi mampu menahan dirinya daripada melakukan zina dan maksiat.

3. Haram
Haram bagi mereka yang tidak dapat berlaku adil dan tidak mempunyai kemampuan zahir dan batin serta dalam keadaan taraf kehidupan semasa dan menyusah membebankan orang sekeliling,maka hukum perkahwinan itu adalah haram

4. Makruh
Bagi seseorang yang lemah tenaga batinnya ataupun kurang mampu memberi nafkah kepada isterinya, maka kahwin baginya adalah makruh.

5. Harus
Ini merupakan hukum asal perkahwinan. Tiada sebab yang mendorongnya untuk berkahwin ataupun halangan yang menghalang baginya berkahwin.

by zuedean asclane -- 27 julai 2012 - 0011
( Rujukan : Dr. Mustofa Al-Khin, Dr. Mustafa Al-Bugho dan Ali Asy-Syarbaji.
Kitab Fikah Mazhab Syafie.

✦ ✦ ✦STORY --> REGRET✦ ✦ ✦

Once, a group of people were traveling on rocks at night. A voice came from the sky that whosoever picks up the rocks will regret and whosoever doesn't pick up the rocks will regret. Now, the people were confused. How can this be? Whether you pick up the rocks or not, you will regret! 

Anyway, some people picked up the rocks and some didn't. In the morning when they re
ached their
homes, they saw that the rocks turned into diamonds. Now, those people who didn't pick up the rocks started regretting saying, "If only we had picked up some rocks." Those people who did pick some rocks also started regretting saying, "Why didn't we pick up more rocks?" Both sides ended up regretting.

Dear Muslims, this same incident will take place with us on the Day of Judgment. Those people who spent their time in useless things will start regretting by looking at those who achieved a great position in Paradise by spending their time in the way of Allah (SWT). Now, those who did achieve a position in Paradise will start regretting by looking at those who did more than them and are higher in status. "Alas! If we had only done more to please Allah (SWT)."

Allah (SWT), the Majestic said: "And could you but see when the guilty shall hang down their heads before their Lord: Our Lord! We have seen and we have heard, therefore send us back, we will do good; surely (now) we are certain." Noble Qur'an (32:12)











All About Islam

3 Tempat membuat kita lupa pada anak dan isteri...



“Aisyah Menangis ?”
Pada suatu hari, tiba-tiba saja ‘Aisyah istri Nabi saw menangis. Nabi pun bertanya padanya : “Duhai ‘Aisyah, apa gerangan yang membuatmu menangis ?” 
“Aku mengingat neraka maka aku menangis.

Wahai Rasulullah, apakah engkau akan mengingat keluargamu pada hari kiamat nanti ?” kata ‘Aisyah. Nabi menjawab : “Adapun pada tiga tempat, maka tidak ada seorang pun yang dapat ingat orang lain,

PERTAMA, pada saat buku catatan amal berterbangan ( mendatangi pemiliknya ). Tidak ada seorangpun yang tahu, apakah buku catatan amal mereka akan datang dari sebelah kanan atau sebelah kiri. Setiap orang menunggu-nunggu lembaran amal dan hasil kehidupan dunianya. Ia tidak tahu keselamatankah yang ia dapat atau kebinasaan. Ia tidak tahu apakah jalan yang akan ditempuhnya berakhir di surga atau di neraka. Dan dalam keadaan seperti itu, setiap orang akan sibuk dengan dirinya sendiri. Akan sibuk memikirkan dosa yang ia perbuat.

KEDUA, ketika timbangan amal diletakkan untuk mengetahui mana yang ringan dan mana yang berat.“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” ( Al Anbiya’ : 47 )

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata:
“Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”.( Al Kahfi : 49 )

KETIGA, pada saat melewati jambatan ( shirath ). Tidak ada seorangpun yang mengetahui, apakah ia akan berhasil melewatinya atau ia akan terjatuh dan gagal melewatinya. Dan jambatan itu…yah, jambatan itu adalah jambatan yang dibentangkan di atas punggung neraka jahannam…semua orang akan melewatinya…dari manusia pertama hingga manusia terakhir yang hidup di dunia…” ( Ibnaty Al Habibah, hal.30 )

Kalau demikian adanya, pantaslah ‘Aisyah –radhiallahu ‘anha- sang istri Nabi, putri Ash Shiddiq, dan ummul mu’minin itu menangis…dan ia memang harus menangisi kengerian perjalanan negri akhirat itu.

Lalu bagaimana dengan kita ? Haruskah kitapun menangis ??

Setiap kita tentu tahu jawabannya.


Rujukan:
http://www.facebook.com/pages/Islamic-Knowledge/261290240605264

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...