SYAHID !





1. PENGERTIAN JIHAD

Kata jihad dari kata juhd yang berarti kemampuan dan kesukaran. Misalnya jaahada yujaahidu jihaadan au mujaahadah, yaitu apabila seseorang menguras kesanggupan dan mengerahkan segenap kemampuannya serta menanggung segala kesukaran dalam rangka memerangi musuh dan mengenyahkannya.

Jihad tidak disebutkan jihad haqiqi, kecuali bila dimaksudkan mendambakan ridha Allah dan ditujukan untuk meninggikan kalimat-Nya, mengibarkan janji kebenaran, menolak/memberantas kebathilan, dan untuk mengorbankan jiwa dalam rangka menggapai ridha-Nya. Jika jihad dimaksudkan untuk menumpuk kenikmatan duniawi, maka ini tidak disebut jihad haqiqi.

Oleh sebab itu, barangsiapa yang berperang demi memperoleh kedudukan, atau mendapatkan rampasan perang, atau menunjukkan keberanian, atau memperoleh popularitas, maka dia sama sekali tidak mempunyai bagian di akhirat dan tidak memperoleh pahala sedikit pun.

Dari Abu Musa ra, ia berkata: Telah datang seorang laki-laki Nabi saw lalu dia bertanya (kepada Beliau), “Seseorang yang berperang demi mendapatkan harta rampasan perang, dan seseorang yang berperang demi mengejar popularitas, dan seseorang yang berperang guna menunjukkan kehebatannya lalu siapakah (di antara mereka itu) yang di jalan Allah?” Maka jawab Beliau, “Barangsiapa yang berperang untuk menjadikan kalimat (agama) Allah yang tertinggi, maka itulah (jihad) di jalan Allah.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari VI: 27 no: 2810, Muslim III: 1512 no: 1904, ‘Aunul Ma’bud VII: 193 no: 2500, Tirmidzi III: 100 no: 1697 dan Ibnu Majah II: 931 no: 2783).

2. DORONGAN BERJIHAD

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menegakkan sholat, serta berpuasa Ramadhan maka hak Allah atasnya untuk memasukkannya ke dalam surga. Ia berjihad di jalan Allah, atau duduk di daerah kelahirannya." Para sahabat pada bertanya, “Bolehkah kami menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?” Jawab Beliau, “Sesungguhnya di dalam surga ada seratus derajat yang Allah persiapkan untuk orang-orang yang berjihad di jalan Allah, yang jarak antara dua derajat seperti antara langit dengan bumi; karena itu, bila kalian hendak memohon kepada Allah, maka mohonlah surga Firdaus; karena ia adalah surga percontohan dan surga yang paling tinggi derajatnya yang di atasnya terdapat ‘Arsy (Allah) Yang Maha Pengasih, dan darinya memancarkan (mata air) sungai-sungai di surga.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 2126, ash Shahihah no: 921 dan Fathul Bari VI: 11 no: 2790).

Darinya (Abu Hurairah) ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan mujahid di jalan Allah seperti perumpamaan orang yang berpuasa lagi menegakkan shalat dengan membaca ayat-ayat Allah yang panjang, ia tidak pernah putus dari puasanya dan tidak (pula) dari shalatnya hingga sang mujahid di jalan Allah itu kembali (ke rumahnya).” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 5851, Muslim III: 1498 no: 1878, Tirmidzi III: 88 no: 1669).

Darinya (Abu Hurairah) ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Allah segera memberi pahala kepada orang yang pergi (berjihad) di jalan-Nya, yang tidak ada yang mendorongnya pergi kecuali karena iman kepada-Ku dan membenarkan Rasul-rasul-Ku; Dia akan kembalikan ia dengan membawa pahala dan rampasan perang atau akan Dia masukkan ia ke dalam surga.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari I: 92 no: 36, Muslim III: 1495 no: 1876).

3. KEUTAMAAN JIHAD

Dari Masruq, ia berkata: Kami pernah bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud ra tentang ayat ini, WALAA TAHSABANNAL LADZIINA…
(janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat (limpahan) rizki. QS Ali ‘Imran: 169). Kemudian ia menjawab: Sesungguhnya kami pernah (juga) menanyakan ayat itu kepada Rasulullah saw, lalu Beliau menjawab, “Arwah mereka itu berada dalam rongga-rongga burung yang hijau, ia memiliki banyak lampu gantung yang banyak tangannya yang bergantung pada ‘Arsy. Ia bisa terbang lepas dari surga kapan saja ia mau, kemudian ia kembali (lagi) ke lampu-lampu gantung itu, kemudian Rabb mereka memperhatikan mereka sekali, lalu berfirman kepada mereka (para arwah itu), ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu?’ Jawab mereka, ‘Apa (lagi) yang kami inginkan, sedangkan kami bisa terbang lepas dari surga sesuka kami.’ Dia (Allah) berbuat demikian tiga kali kepada mereka. Tatkala mereka melihat dari mereka tidak dibiarkan, terus ditanya, maka mereka berujar, ‘Ya Rabbi, kami ingin agar Engkau mengembalikan (lagi) arwah kami kepada jassad kami sehingga kami bisa gugur di jalan-Mu sekali lagi.’ Tatkala Dia melihat bahwa mereka tidak mempunyai kebutuhan, maka mereka dibiarkan.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 1068, Muslim III: 1502 no: 1887 dan Tirmidzi IV: 298 no: 4098)

Dari Anas bahwa Rubayyi’ binti al-Bara’, Ummu Haristah bin Suraqah pernah datang kepada Nabi Saw lalu berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah engkau menceriterakan kepadaku tentang Haritsah? Dimana ia gugur pada waktu perang Badar terkena anak panah yang tidak diketahui siapa pemanahnya. Jika ia di surga, maka saya bersabar, namun manakala ia tidak demikian, maka saya akan bersungguh-sungguh menangisnya.” Kemudian Beliau bersabda, ;Ya Ummu Haritsah, sesungguhnya ia adlaah macam-macam surga di dalam surga, sedangkan puteramu menempati surga Firdaus yang paling tinggi.” (Shahih: Shahihul Jam’us Shaghir no: 7852, Fathul Bari VI: 25 no: 2809, Tirmidzi V: 9 no: 3224)

Dari al-Miqdam bin Ma’di Kariba ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang yang gugur sebagai syahid mendapatkan enam keistimewaan: (Pertama) ia akan diampuni dosa-dosa sejak awal berangkat, (kedua) ia akan melihat tempat duduknya di surga, (ketiga) ia akan diselamatkan dari siksa kubur, (keempat) ia akan terselamatkan dari kepanikan yang luar biasa, (kelima) di atas kepalanya akan dipasang mahkota ketenangan yang terbuat dari yaqut yang lebih baik dari dunia dan seisinya, (keenam) dikawinkan dengan tujuh puluh dua isteri dari bidadari yang bermata jelita dan diberi hak memberi syafa’at kepada tujuh puluh dari kerabatnya.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 2257, Tirmidzi III: 106 no: 1712, Ibnu Majah II: 935 no: 2799)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Orang yang gugur sebagai syahid tidak akan merasakan pedihnya terbunuh, melainkan seperti seorang di antara kamu merasa sakit karena dicubit.” (Hasan Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 2260, Tirmidzi III: 109 no: 1719 dan Ibnu Majah II: 937 no: 3802 serta Nasa’i VI: 36).

4. ANCAMAN AGAR TIDAK MENINGGALKAN JIHAD
"Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah", kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS At-Taubah: 38–39)

Allah swt berfirman dalam surah yang lain:

"Dan belajakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan jangan kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-Baqarah: 195)

Ibnu Katsir menulils bahwa al-Laits bin Sa’ad dari Yazid bin Abi Hubaib dari Aslam Abi ‘Imran, ia berkata, “Ada seorang prajurit dari batalyon Mujahirin maju ke daerah pertahanan musuh di Qasthanthiniyah (Konstantinopel) hingga badannya tertembus anak panah, bersama kami ada Abu Ayyub al-Anshari, lalu orang-orang pada berkomentar, 'Ia mencampakkan dirinya ke jurang kebinasaan.' Kemudian Abu Ayyub berujar, ‘Kami lebih tahu (daripada yang lain) mengenai makna ayat ini. Ayat ini turun pada kami, kami bersahabat dengan Rasulullah saw dan kami telah ikut bersamanya dalam banyak peperangan dan kami selalu membelanya. Tatkala Islam telah tersebar dan jaya, kami segenap kaum Anshar mengadakan pertemuan atas dasar cinta. Maka kami mengatakan: "Sungguh Allah telah memuliakan kami dengan bersahabat dengan Nabi-Nya saw dan dengan menolongnya hingga Islam menyebar dan pemeluknya berjumlah besar." Dan dahulu kami lebih mengutamakan Rasulullah daripada keluaga, harta benda, dan anak-anak, kemudian perang berakhir, lalu kami kembali kepada keluarga kami, anak-anak kami, kami tinggal bersama mereka. Lalu turunlah kepada kami ayat (yang artinya). "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-Baqarah: 195). Jadi, kebinasaan itu ialah karena tetap tinggal di rumah, tidak mau berinfak, dan enggan berjihad.”

Riwayat di atas direkam oleh Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Abdun bin Humaid dalam tafsirannya, juga Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, Ibnu Mardawaih, Al-Hafizh Abu Ya’ala al-Mushi dalam musnadnya, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, al-Hakim dalam Mustadraknya. Mereka semua ini bersumber dari hadits Yazid bin Abi Hubaid. Imam Tirmidzi berkata, “Hadist ini Hasan Shahih Gharib.” Imam Hakim menegaskan, “Para perawi sanad riwayat ini dipakai oleh Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya.” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 2187, Tafsir Ibnu Katsir I: 228, ’Aunul Ma’bud VII: 188 no: 2495, Tirmidzi III: 280 no: 4053 dan Mustadrak Hakim II: 275)

Dari Ibnu Umar ra bahwa Nabi saw bersabda, “Jika kamu melakukan jual beli secara kredit dengan tambahan harga, mengambil ekor-ekor sapi (sebuah perumpamaan dari Rasulullah yang berarti riba atau tambahan), dan kamu merasa puas dengan tanamanmu, serta kamu meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakkan kehinaan kepadamu yang tidak akan dicabut hingga kamu kembali (tunduk patuh) kepada agamamu.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 423)

5. HUKUM JIHAD

"Telah diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu. Padahal dia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-BAqarah: 216)

Jihad adalah fardhu kifayah, berdasar firman Allah swt:

"Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai ‘udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga)." (QS An-Nisaa: 95)

Ibnu Jarir ath-Thabari mengomentari ayat di atas dengan perkataannya, "Allah Yang Maha Tinggi snnjungan-Nya menjelaskan bahwa para mujahid akan mendapatkan keutamaan, dan bahwasanya mereka serta orang-orang yang duduk akan mendapat imbalan yang baik. Kalaulah sekiranya orang-orang yang duduk, yang tidak ikut berperang itu, telah menyia-nyiakan kewajiban, niscaya mereka akan mendapatkan imbalan yang buruk, bukan imbalan yang baik." (Tafsir Ath-Thabari II: 345)

Ketahuilah, bahwa berlandaskan banyak ayat dan hadits yang mengupas persoalan jihad, kita dianjurkan memperbanyak jihad, minimal sekali dalam setahun. Karena Nabi saw semenjak diperintah berjihad tidak pernah vakum dari aktifitas jihad dalam setiap tahun. Sedangkan meneladani Rasulullah saw adalah suatu kewajiban, dan jihad adalah kewajiban yang dikerjakan berulang kali. Adapun ibadah fardhu yang paling sedikit diulangi sekali dalam setahun ialah puasa dan zakat. Lain dengan jihad, manakala ada hajat yang mengharuskan jihad maka dikerjakan lebih dari sekali dalam setahun, atau mengharuskan jihad maka dikerjakan lebih dari sekali dalam setahun, atau berulangkali, karena ia adalah fardhu kifayah. Jadi diukur sesuai dengan kadar kebutuhannya. Wallahu A’lam.

“Akan tetapi satu hal yang seyogyanya kita semua memahami bahwa qital (perang) dalam Islam tidak boleh dimulai sebelum terlebih dahulu ada pengumuman dan takhyir (pemberian alternatif), yaitu menerima Islam atau membayar jizyah (upeti) atau perang. Perang didahului dengan pembatalan perjanjian, bila mereka pernah mengikat perjanjian, dalam kondisi mengkhawatirkan pihak lawan berkhianat. Ahkam niha-iyah (hukum-hukum yang final) menetapkan perjanjian hanya untuk ahludz dzimmah, yaitu orang-orang yang menerima tawaran damai dari Islam dan mau membayar jizyah. Dan tidak ada perjanjian pada selain kondisi seperti ini, kecuali kaum Muslimin dalam keadaan lemah yang menjadikan hukum tertentu dalam keadaan lemah ini sebagai hukum marhali (hukum periodik) yang biasanya diberlakukan dalam keadaan yang menyerupai keadaan di mana sekarang mereka hidup.”

6. ADAB QITAL (ETIKA PERANG)

Dari Buraidah ra ia bercerita: Adalah Rasulullah saw apabila mengangkat seorang sahabat sebagai panglima perang, Beliau memberi wasiat khusus kepadanya agar bertakwa kepada Allah Ta’ala dan berbuat baik kepada segenap prajurit yang bersamanya, kemudian Beliau bersabda, “Berperanglah dengan (menyebut) nama Allah, di jalan-Nya hendaklah kalian menumpas orang-orang yang kufur kepada Allah. Berperanglah, namun jangan kalian mencuri (harta rampasan sebelum dibagi oleh panglima) dan jangan (pula) khianat, janganlah kalian mencincang (menyayat-nyayat bangkai) musuh dan jangan (pula) kalian menebas batang leher anak-anak kecil. Oleh sebab itu, manakala kalian berhadapan dengan kubu musuhmu dari kaum musyrikin, serulah mereka kepada tiga hal, apa saja yang mereka terima dari tiga hal tersebut, maka terimalah dan jangan memerangi mereka! Serulah kepada Islam; jika mereka menerima ajakanmu, terimalah kemauan baik dari mereka itu dan tahanlah dirimu dari mereka. Kemudian ajaklah mereka berhijrah dari negeri mereka (sendiri) ke negeri Muhajirin, dan informasikan kepada mereka bahwa manakala mereka melaksanakan ajakan itu, maka mereka akan mendapatkan hak yang diperoleh kaum Muhajirin itu dan mereka harus melaksanakan kewajiban sebagaimana yang mesti dilaksanakan oleh kaum Muhajirin itu. Jika mereka (tetap) enggan berhijrah dari negeri mereka (sendiri), maka jelaskan kepada mereka bahwa mereka akan diperlakukan seperti orang-orang Arab Muslim yang lain, hukum Allah swt tetap berlaku atas mereka sebagaimana yang berlaku atas kaum Mukmunin; namun mereka tidak berhak memperoleh ghanimah (yaitu harta rampasan perang yang diperoleh melalui peperangan) dan fai' (yaitu harta rampasan perang yang diperoleh tanpa terjadinya peperangan (tanpa ada perlawanan) sedikit pun, kecuali mereka turut serta berjihad bersama kaum Muslimin. Jika mereka (masih) menolak (tawaran tersebut), tuntutlah mereka agar membayar jizyah; jika mereka memenuhi tuntutanmu, maka terimalah (jizyah) dari mereka itu dan tahanlah dirimu terhadap mereka; jika mereka (tetap) menolak, maka mohonlah pertolongan kepada Allah untuk mengalahkan mereka.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 1111, Muslim III: 1356 no: 1731, Tirmidzi II: 431 no: 1429 secara ringkas)

Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: “Didapati seorang perempuan terbunuh di sebagian medan peperangan bersama Rasulullah saw lalu Beliau melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari VI: 148 no: 3015, Muslim III: 1364 no: 1744, ‘Aunul Ma’bud VII: 329 no: 2651, Tirmidzi III: 66 no: 1617 dan Ibnu Majah II: 947 no: 2841).

Nabi saw pernah mengutus Mu’adz bin Jabal ra ke penduduk Yaman sebagai da’i. Wasiat yang beliau sampaikan kepadanya (sebagai berikut), “Sesungguhnya engkau (Mu’adz) akan datang kepada suatu kaum Ahli Kitab; karena itu ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada Ilah (yang paut diibadahi), kecuali Allah dan bahwasanya aku adalah Rasul-Nya. Jika mereka dalam hal ini ta’at kepadamu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah Ta’ala telah memfardhukan atas mereka shalat lima kali sehari semalam. Jika mereka dalam ini patuh kepadamu, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah memfardhukan atas mereka zakat yang dipungut dari orang-orang kaya di antara mereka lalu disalurkan kepada orang-orang faqir mereka. Jika dalam hal ini mereka tunduk kepadamu, maka janganlah kamu mengambil harta benda mereka yang berharga dan waspadalah terhadap do’a orang yang teraniaya; karena sesungguhnya antara do’a (tersebut) dengan Allah tidak ada hijab (penghalang).” (Muttafaqun ’alaih).

☛ Rohingya : Malapetaka Yang Tiada Kesudahan Akibat Ketiadaan Daulah Khilafah ☚








Sekali lagi, salah satu daripada penduduk dunia yang paling ditindas sedang berdepan dengan penyeksaan dan kezaliman. Umat Islam minoriti Rohingya telah diserang, dibunuh dan rumah-rumah mereka dibakar oleh penduduk majoriti Buddha di Myanmar kerana seorang wanita Buddha mendakwa telah dirogol oleh orang-orang Rohingnya. Kekejaman yang berlaku ini sudah menjadi suatu kebiasaan bagi penduduk Rohingya di Myanmar kerana mereka menghadapi kezaliman, ancaman, ugutan dan penyeksaan daripada pendududk Buddha, tentera Myanmar dan pihak keselamatan setiap hari.

Kekejaman ini mula berlaku ketika mana kepimpinan junta Myanmar telah mula beransur-ansur kembali ke pangkuan dunia setelah bertahun-tahun dipulaukan oleh masyarakat dunia. Sekatan yang dikenakan oleh Amerika Syarikat dan Kesatuan Eropah telah ditamatkan apabila negara tersebut telah mula bergerak ke arah sistem pemerintahan demokrasi. Pihak junta mahu membuktikan kepada dunia bahawa mereka boleh mengendalikan negara mereka yang terdiri daripada pelbagai jenis penduduk etnik di Myanmar. Barat sedang menunggu untuk membuka sempadannya dengan Myanmar dan para pelabur telah mula meninjau keadaan di Myanmar selepas bertahun-tahun diperintah oleh rejim tentera. Myanmar adalah merupakan salah satu batu loncatan bagi Amerika Syarikat untuk menghalang China daripada menjadi kuasa utama dunia, yang mana ia telah melindungi dan menyokong junta tentera di Myanmar selama bertahun-tahun lamanya. Terdapat banyak kumpulan etnik yang diiktiraf (keberadaannya) di Myanmar tetapi malangnya kaum Rohingya bukanlah salah satu daripada mereka. Rejim Myanmar sememangnya ingin menamatkan keganasan dan rusuhan kerana ini akan menakutkan dan menjauhkan para pelabur serta membantutkan usaha-usaha ke arah sistem pemerintahan demokrasi. Halangan liputan media wujud di kawasan-kawasan di mana umat Islam Rohingya menetap di wilayah Rakhine.

Suatu tindakan yang amat memalukan daripada insiden ini adalah bagaimana kerajaan Bangladesh melayan saudara-saudara mereka di kalangan Muslimin dan Muslimat dari Myanmar. Sejak keganasan meletus di wilayah Rakhine, ramai kaum Muslimin Rohingya telah melarikan diri dengan menaiki kapal dan belayar ke Bangladesh yang merupakan negara jiran Myanmar. Apa yang dapat disaksikan setelah tiba di perairan Bangladesh, kaum Muslimin Rohingya tidak diberikan perlindungan dan keselamatan oleh saudara-saudara semuslim mereka. Sebaliknya, arahan telah dikeluarkan oleh kerajaan Bangladesh supaya kesemua Muslim Rohingnya dihantar pulang semula ke laut menuju ke Myanmar, kembali kepada tempat kezaliman dan keganasan mereka. Kebanyakan kapal-kapal tersebut dipenuhi oleh wanita dan kanak-kanak yang belayar selama 9 jam dan tidak mempunyai makanan dan minuman yang mencukupi. Kapal-kapal tersebut telah diarahkan supaya belayar semula ke laut. Apa yang dilakukan oleh kerajaan Bangladesh adalah sama sepertimana yang dilakukan oleh kerajaan Thailand beberapa tahun lalu apabila kaum Muslimin Rohingya ingin meminta suaka politik di sana. Berkaitan insiden ini, Menteri Luar Bangladesh, Dipu Moni memberitahu wartawan bahawa: “Kami tidak mahukan pelarian baru yang datang dari Myanmar”.

Peristiwa ini dengan jelas telah menunjukkan niat dan sikap sebenar kerajaan Bangladesh bahawa mereka langsung tidak mengambil peduli tentang keadaan umat, sebaliknya mereka terus mempertahankan dan melindungi sempadan palsu yang melingkari negara mereka. Apa yang menarik dalam hal ini adalah kerajaan Bangladesh sanggup untuk membelanjakan banyak sumber dan tenaga mereka bagi memastikan bahawa sempadannya dengan Myanmar terjaga berbanding dengan nilai nyawa umat Islam Rohingnya. Pada masa yang sama, kerajaan Bangladesh juga tidak berhati-hati atau tidak meningkatkan keselamatan sempadannya dengan India di mana ramai kaum Muslimin Bangladesh telah ditembak, dibunuh dan dicabul oleh pihak keselamatan India. Sikap yang berbeza yang ditunjukkan oleh kerajaan Bangladesh apabila berhadapan dengan India telah menzahirkan sikap dwistandard dan hipokrasi kerajaan Bangladesh.

Di dalam Islam, kita mempunyai konsep persaudaraan sesama umat. Kita mengetahui konsep ini kerana ia merupakan sebahagian daripada jiwa kita. Islam telah mentakrifkan bagaimana sepatutnya kita memandang konsep kesatuan dan persaudaraan sesama umat:

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

"Sesungguhnya sesama Mukmin itu adalah bersaudara" [TMQ Al-Hujurat (49) :10]

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

"Dan sesungguhnya umat ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhan kamu. Maka bertaqwalah kepada Aku." [TMQ Al-Mu'minun (23) :52]

Rasulullah (SAW) صلى الله عليه وسلم bersabda:

"Seseorang Muslim adalah bersaudara dengan Muslim yang lain. Ia tidak akan mezalimi saudaranya dan tidak akan membiarkannya dizalimi oleh orang lain." [HR Muslim].

Islam menetapkan bahawa seseorang Muslim sekali-kali tidak boleh mengabaikan Muslim yang lain. Disebabkan kita mempunyai ramai pemerintah yang tidak ikhlas yang sedemikian rupa, kita dapati bahawa kuasa-kuasa asing menggunakan perpecahan yang berlaku di kalangan umat Islam ini untuk memenuhi agenda mereka.

Semoga Allah menyatukan semula umat Islam ini menjadi satu badan, yang mana dengannya ia akan menamatkan penjajahan ke atas tanah-tanah umat Islam, menamatkan penindasan yang dilakukan oleh para pemerintah umat Islam serta yang dilakukan oleh kuasa-kuasa asing.
 








Akibat Melakukan Hubungan Seks Ketika Haid

Pengharaman Seks Semasa Haid
Islam mengharamkan melakukan hubungan seks antara suami dan isteri ketika waktu haid. Hukum ini telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala didalam firman Nya yang bermaksud:“Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad), mengenai (hukum) haid. Katakanlah: “Darah haid itu adalah kotoran dan mendatangkan mudarat”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu, dan janganlah kamu hampiri mereka (untuk bersetubuh) sebelum mereka suci. Kemudian apabila mereka sudah bersuci maka datangilah mereka menurut jalan yang diperintahkan oleh Allah kepada kamu. SesungguhNya Allah mengasihi orang-orang yang banyak bertaubat, dan mengasihi orang-orang yang sentiasa mensucikan diri.” (Surah Al-Baqarah 2:222)

Didalam Hadis Nabi Muhammad s.a.w banyak memperkatakan hal ini, diantaranya sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud: “Sesiapa yang menyetubuhi wanita yang sedang haid ataupun menyetubuhi wanita di saluran duburnya ataupun mendatangi tukang tenung nasib dan mempercayainya, sesungguhnya dia telah kufur dengan apa yang diturunkan ke atas Muhammad.” (Riwayat Ahmad dan Tarmuzi)

Imam Al Ghazali merumuskan hukum ini di dalam Ihya Ulumuddin dengan berkata, “Janganlah suami menyetubuhi isteri yang sedang haid dan juga jangan sesudah haid sebelum si isteri menyempurnakan mandi wajib terlebih dahulu, kerana yang demikian itu diharamkan dengan dalil Al-Quran.“



Kajian Mengenai Bahaya Seks Ketika Haid

Melakukan hubungan seks ketika haid mempunyai banyak risiko, menurut kajian yang dijalankan oleh Dr. Diana Antoniskis (MD)dari Kumpulan Penyelidikan dan Pendidikan (The Research And Education Group) yang beribu pejabat di Oregon, dalam artikel yang bertajuk Women With HIV Infection, risiko jangkitan kuman HIV meningkat di kalangan wanita yang mengadakan hubungan seks ketika haid ataupun dengan lelaki yang tidak berkhatan.

Pusat Pengawalan dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control And Prevention) di Amerika, pada Perhimpunan kesebelas Pertubuhan Antarabangsa Berhubung Penyakit-Penyakit Jangkitan Seksual di New Orleans yang diadakan pada 27 hingga 30 Ogos pada tahun 1995 melaporkan,menjauhi hubungan seks ketika haid ataupun ketika mengalami pendarahan di bahagian farajadalah penting untuk mengurangkan risiko dijangkiti kuman HIV bagi lelaki dan wanita.

Laporan itu juga menjelaskan, wanita yang mengadakan hubungan seks ketika haidmeningkatkan risiko dijangkiti AIDS sebanyak enam kali ganda. Persetubuhan pada waktu haid juga boleh mengakibatkan pendarahan yang teruk ke atas wanita. Kajian yang dilakukan oleh Dr. Winnifield Cutler dan rakan-rakannya dari Institut Athena Bagi Kesihatan Wanita diChester Springs menunjukkan, wanita yang hampir putus haid atau perimenopausal, yang kerap mengadakan hubungan seks ketika haid sering kali mengalami masalah pendarahan yang teruk daripada biasa.

Kebiasaannya kes-kes seperti ini akhirnya terpaksa menjalani pembedahan berisiko tinggi untuk membuang rahim atau hysterectomy dan ovari atau ovariectomy. Penemuan ini dilaporkan di dalam Journal of Psychosomatic Obstetrics and Gynaecology pada tahun 1996. Bagi golongan wanita, tiub fallopian dan ovari mereka boleh diserang kuman bakteria sehingga menyebabkan keputihan, sakit dan demam yang kuat.

Risiko untuk menghidap penyakit ini adalah tinggi di kalangan mereka yang melakukan hubungan seks ketika haid. Hal ini disebabkan, kebiasaannya tiub fallopian dan ovaridilindungi daripada serangan bakteria oleh bahan asid yang terdapat di kawasan faraj atau vagina.

Ketika wanita itu didalam keadaan haid, kawasan faraj menjadi alkali justeru memudahkan kuman untuk membiak dan mendatangkan penyakit terutamanya apabila berlaku persetubuhan pada waktu itu.

Oleh yang demikian, hukum pengharaman persetubuhan ketika haid oleh agama Islam adalah amat baik kerana ia mendatangkan banyak manfaat dari sudut kesihatan. Walaubagaimanapun Islam tidak melarang diantara suami isteri bergurau senda dan bergaul mesra semasa haid, asalkan perbuatan itu tidak membawa kepada persetubuhan.

Menurut Hadith yang diriwayatkan oleh Bukhari, Aisyah pernah ditanya oleh Masruq bin Ajdak,“Apakah yang boleh dilakukan oleh suami semasa isterinya sedang dalam keadaan haid?”Lalu Aisyah menjawab, “Apa-apa sahaja kecuali bersetubuh.” (Hadith Sahih Bukhari)

Wallahu’alam….
Rujukan: Dr. Danial bin Zainal Abidin (M.B.Ch.B., Universiti Alexandria) Pengarah Urusan Danial Zainal Consultancy (M) Sdn. Bhd. dan Penulis bagi PTS Publications & Distributors Sdn Bhd

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...